Rabu, 09 Juli 2014

TPS 30 Sekip Jaya

Alhamdulillah kami bisa ikutan pilpres :)
Adit-Nita-Ari-Hafiz-Endi-Ridho-Ferdi-Khoti-Ryan

Jumat, 27 Juni 2014

Out of Plan



inspired by Bu Risma dan Hafiz

Jumat, 20 Juni 2014

Cuci Otak

Alhamdulillah hahaha horeee udah selesai TA sejak kamis lalu, dan (saya dan dosen) puas banget dengan hasilnya, nggak sia-sia ngerjainnya penuh penundaan perenungan gitu, beneran, saya nggak mau nunda, cuma mengejewantahkan isi kepala saya ke tulisan perlu brainstorming yang heboh banget, makanya lama ngerjainnya (kecuali kalo curhat haha). Yowes, ntar kalo ada call for paper Bimkes insya Allah mau diikutsertakan :)

Selama seminggu ini kami para dokter muda bagian ilmu kesehatan masyarakat dan kedokteran komunitas menjalani program brainwashing di kegiatan Occupational Health and Safety Course. Gimana nggak? Mayoritas dari kami mendadak ingin jadi dokter perusahaan hahahaha, prospeknya bagus karena industri di Indonesia bakal masih terus berkembang, kegiatannya seru banget, kegiatannya lebih menantang, lebih analitik, dan chuan-nya gede juga haha.... dan yang paling penting, aplikasi preventive and promotive medicine itu ya disini, bukan di rumah sakit atau klinik, bukan nungguin orang sakit untuk dateng berobat, tapi gimana caranya supaya orang nggak sakit. This is the truly medicine. Keren banget emang jadi dokter perusahaan, bukan cuma ngurusin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, tapi juga ngurusin lingkungan sekitar perusahaan, meningkatkan produktivitas perusahaan, keliling-keliling, gaulnya sama engineer2 bahas teknologi yang bukan hanya produktif tapi juga aman buat tenaga kerja, bahas gizi tenaga kerja, prospek penelitiannya juga banyak, et cetera. Top pokoknya hahaha, tapi saya nggak menjadikan occupational physician sebagai prioritas pertama pilihan karir soalnya ada yang lebih menarik hehe, saya dukung banget temen2 yang mau jadi dokter perusahaan :)


Field trip to Sriwijaya Palm Oil Indonesia, because a good occupational physician should know how the business operate and assess potential hazard risk, it is fun! :) 

Hal lain yang seru juga pas bicara tentang gizi kerja, pembicaranya dokter yang masih muda, dan sepertinya haha beliau masih ingat betul bagaimana rasanya jadi koas. Pas materi gizi kerja juga ngebahas tentang hak-hak tenaga kerja kan....
(P: Pembicara; K: Koas) 
P: Idealnya kerja itu tiap 4 jam ada istirahat, dapet coffee break juga. Kalo koas berapa lama jam kerjanya? Hehehe
K: Kalo jaga bisa sampai 32 jaaaaaaaam (kompak banget, terharu)
P: Dapet makanan nggak?
K: Nggaaaaaaaaak
P: Emang kalian tenaga kerja?
K1: Buruh tanpa tanda jasa! Hahaha
K2: Bukan, kami itu budak! Hahaha
Hahahaha, kami semua tertawa antara bahagia karena ngerasa we'll never walk alone dan miris dengan nasib kami sendiri (tapi tetep aja lucu hahaha). Emang masa-masa koas ini bakal indah banget buat dikenang, apalagi buat para muggle hahahaha. Tetap riang dan gembira ya, dadah! :D

Sabtu, 14 Juni 2014

Saat ini mestinya lagi mikir mau nulis apa di tugas akhir yang tak kunjung berakhir haha gegara terdistraksi sama pikiran sendiri yang malah ingin mikirin yang lain, tentang keinginan. Kalo kita udah ikhtiar optimal, berdo'a yang baik, terus mesti berharap apa? Mesti ingin banget atau ingin biasa aja?

Saya pernah mengalami berbagai kombinasi ingin banget dan ingin biasa aja dengan berbagai variasi hasil.
Pernah ingin banget, terus dikabulkan.
Pernah ingin banget, tapi nggak dikabulkan saat itu, tapi diganti setahun kemudian dan combo keberuntungannya.
Pernah ingin biasa aja, malah dikabulkan.
Pernah ingin banget sesuatu, terus saking lamanya pengumuman, lupa kalau saya pernah menginginkan itu, taunya malah dikabulkan haha. Ini oke banget.
Pernah juga ingin banget, tapi belum dikabulkan, ada yang udah dapat hikmahnya, ada yang belum dapat hikmahnya.
Pernah juga saya coba memodifikasi rasa ingin haha. Pernah saya ingin banget, tapi saya usahakan supaya inginnya jadi biasa aja haha, tapi belum dikabulkan.
Pernah nggak pernah berharap, malah dikasih hal-hal baik bertubi-tubi. Sering.
.... dan kayaknya masih banyak variasi lainnya yang pernah dialami. Alhamdulillah.

Ada kesamaan dari semua yang Allah kabulkan, semuanya didahului ikhtiar yang optimal, dan (saya yakin banget) ini bukan karena do'a saya seorang, tapi do'a orangtua yang jadi boosternya, dan juga do'a2 baik dari orang2 baik yang saking baiknya ikhlas mendo'akan saya. Duh, ingin sungkem ke mama papa, do'a mama selalu baik, lengkap, holistik, dan komprehensif, selalu bikin terharu, do'a papa selalu sederhana, tapi dalem. Sayang banget sama mereka. Semoga mereka disayang Allah.

Kompleks memang cara Allah mengabulkan keinginan seseorang, so unpredictable and sweet, indeed, saya nggak berhasil menemukan polanya, apakah mesti ingin banget atau ingin biasa aja, ya sebagai seorang muslim yang paling penting ikhtiar optimal dan do'a yang baik, kemudian husnudzon dan bersyukur dengan segala keputusanNya, pasti itu yang terbaik, insya Allah.

Jumat, 13 Juni 2014

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
(QS. Nuh: 13)

:')

friends